Powered By Blogger

Jumat, 27 Mei 2011

UNSUR SATRA DAN PEMBAGIAN SASTRA

UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK



Karya Sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, sperti tema, tokoh, dan penokohan, alur dan pengaluran, latar dan pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, sikologi, dan lain-lain.






1. Unsur Intrinsik


a) Tema dan Amanat
TEMA ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
AMANAT ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi maknaniatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Maka muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.


b) Tokoh dan penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).
Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaab dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Anatgonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jaddi pengarang menguraikan cirri-ciri tokoh tersebut secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
Dialog : Cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh
Dualog : Cakapan antara dua tokoh saja
Monolog : Cakapan batin terhadap kejadian lampau yang sedang terjadi
Solilokui : Bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi


c) Alur dan Pengaluran
Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh. Alur terdiri atas beberapa bagian:
1. Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya
2. Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku
3. Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru
4. Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya
5. Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap
6. Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan
Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longgar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alaur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campuran keduanya.


d) Latar dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi latar material dan social. Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar social, ialah lukisan tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.


e) Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini addalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebgai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.


2. Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah factor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra,serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsure ekstrinsik ialah unsure yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsure ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.
PEMBAGIAN SASTRA
Karya sastra Indonesia dapat dibagi menjadi dua menurut zaman pembuatan karya tersebut. Yang pertama adalah karya sastra lama Indonesia dan karya sastra baru Indonesia. Masing-masing karya memiliki cirri khas tersendiri.
Karya sastra lama adalah karya sastra yang lahir dalam masyarakat lama, yaitu suatu masyarakat yang masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta ajaran-ajaran agama. Sastra lama Indonesia memiliki cirri-ciri:


1) Terikat oleh kebiasaan dan adat masyarakat
2) Bersifat istan
3) Bentuknya baku
4) Biasanya nama pengarangnya tidak disertakan (anonym)


Bentuk sastra lama Indonesia adalah Pantu, Gurindam, Syair, Hikayat, Dongeng, dan Tambo.
Karya sastra baru Indonesia sangat berbeda dengan sastra lama. Karya sastra ini sudah tidak dipengaruhi adat kebiasaan masyarakat sekitarnya. Malahan karya sastra baru Indonesia cenderung dipengaruhi oleh sastra dari Barat atau Eropa. Ciri-ciri sastra baru Indonesia adalah:


1) Ceritanya berkisar kehidupan masyarakat
2) Bersifat dinamis ( mengikuti perkembangan zaman)
3) Mencerminkan kepribadian pengarangnya
4) Selalu diberi nama sang pembuat karya sastra


Bentuk sastra Indonesia antara lain adalah Roman, Novel, Cerpen, dan Puisi Modern.
Jadi, yang termasuk ke dalam kategori sastra adalah:


1. Pantun
2. Puisi
3. Sajak
4. Pribahasa
5. Kata mutiara
6. Majas
7. Novel
8. Cerita/cerpen (tertulis/lisan)
9. Syair
10. Sandiwara/drama
11. Lukisan/kaligrafi
fungsi sastra : ADIB SANTIKO BUDHI

 FUNGSI SASTRA
Dalam kehidupan masyarakat, sastra mempunyai beberapa fungsi:


1. Fungsi rekreasi, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya.

2. Fungsi didaktif, yaitu sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.

3. Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuankepada pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra yang baik selalu memiliki nilai moral yang tinggi
4. Fungsi estetis, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca/penikmatnya karena sifat keindahannya
5. Fungsi religious, yaitu sastra pun menghasilkan karya-karya yang mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra
RAGAM SASTRA
1. Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu:
a. Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi
b. Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan bahasa yang isngkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah atau aturan tertentu, yaitu:
- Jumlah baris tiap-tiap baitnya
- Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap kalimat atau barisnya
- Irama
- Persamaan bunyi
- Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti prosa.
- Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog. Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan
2. Dilihat dari isinya, sastra terdiri atas 4 macam, yaitu:
a. epic, karangan yang melukiskan sesuatu secara obyektif tanpa mengikutkan pikiran dan perasaan pribadi pengarang
b. lirik, karangan yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif
c. Didaktif, karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang masalah moral, tatakrama, masalah agama, dll
d. Dramatik, karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian (baik atau buruk) dengan pelukisan yang berlebih-lebihan


Pengertian dan Perkembangan Sastra Indonesia


Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.


Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
§  Lisan
Bahasa lisan adalah suatu bentuk komunikasi yang unik dijumpai pada manusia yang menggunakan kata-kata yang diturunka dari kosakata yang besar (kurang lebih 10.000) bersama-sama dengan berbagai macam nama yang diucapkan melalui atau menggunakan organ mulut. Kata-kata yang terucap tersambung menjadi untaian frase dan kalimat yang dikelompokkan secara sintaktis. Kosa kata dan sintaks yang digunakan, bersama-sama dengan bunyi bahasa yang digunakannya membentuk jati diri bahasa tersebut sebagai bahasa alami.
§  Tulisan
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.
Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.
Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.
Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.